Aku melihat bulan yang terang melalui jendela kamarku. Pikiranku terganggu dan aku memutuskan untuk pergi berlari sambil melemparkan senyum terbaikku, sesekali aku tertawa. Aku tidak perduli lagi dengan kata-kata temanku, memang benar aku bodoh. Adrenalinku mengguncang hebat dan dopaminku rasanya meledak.
Napasku terengah-engah karena lelah berlari. Kini aku berada di depan pintu rumahnya. Aku menekan bel. Ini adalah masa-masa diujung tebing. Ia membuka pintu dan sangat jelas ia tidak menyukai kedatanganku. Aku memang egois.
Saat itu juga ia menamparku, meludahiku, menarik rambutku, merusak pakaianku, dan yang terakhir ia menghunuskan belatinya dari leharku sampai perut. Aku hanya bisa tersenyum.
Napasku terengah-engah karena lelah berlari. Kini aku berada di depan pintu rumahnya. Aku menekan bel. Ini adalah masa-masa diujung tebing. Ia membuka pintu dan sangat jelas ia tidak menyukai kedatanganku. Aku memang egois.
Saat itu juga ia menamparku, meludahiku, menarik rambutku, merusak pakaianku, dan yang terakhir ia menghunuskan belatinya dari leharku sampai perut. Aku hanya bisa tersenyum.
Comments
Post a Comment