Skip to main content

Posts

Grandma Poor

Malam ini, cukup dingin di perjalanan pulang ke rumah yang aku lakukan melalui perbukitan yang biasa aku lewati setiap hari sepulang bekerja dengan mobil sedan pribadiku. Hujan yang turun dengan sangat deras telah membekukan jari-jari tanganku dan menyamarkan pandanganku melalui kaca depan mobilku. Dari kejauhan, samar-samar aku melihat seorang perempuan tengah berdiri, berteduh sendirian dibawah atap kecil sebuah rumah kosong. Aku heran melihatnya dan segera menghampirinya, karena aku berniat memberinya tumpangan. Setelah aku berjalan mendekatinya, aku terkejut karena melihat perempuan tersebut adalah seorang nenek tua. Mungkin karena derasnya hujan telah membutakan penglihatan jauhku. Ia tampak lusuh, kotor dan pakaiannya terbalut darah segar, ia juga membawa dua ransel yang terlihat berat. Aku pun segera memberi tumpangan padanya karena kasihan melihatnya. "Nek, kenapa bisa berdarah seperti itu?" tanyaku padanya. "Nenek terjatuh, nak." ujarnya tampak sedih. ...
Recent posts

Hutan

Aku membawa pacarku masuk ke dalam hutan. Saat itu sudah larut malam dan ia mulai ketakutan.  “Aku takut! Aku takut!” katanya sambil memangis.  “Takut? Seharusnya aku yang lebih takut! Aku harus pulang sendirian.”

Ibu yang Sabar

Ibuku sangatlaaaaaah sabar. Tiap kali aku membuat kesalahan atau berbuat nakal. Ia tak pernah marah. Ia hanya menasehatiku agar tidak melakukannya lagi lalu melupakannya begitu saja. Teman-temanku sampai iri lho. Kadang-kadang aku sadar kalau aku sering memanfaatkannya. Aku bebas saja berbuat nakal, toh ibuku akan memaafkanku. Suatu hari aku menyelinap masuk ke kamar ibu saat ibu tak ada. Aku suka mencoba-coba bedak dan lipstiknya. Ibu tak suka aku melakukannya dan aku beberapa kali tertangkap basah. Namun ibu tetap saja tak marah dan hanya menasehatiku. Namun saat itu aku melihat sebuah buku terbuka. Aku ingat buku catatan itu selalu saja tak pernah lepas dari ibuku. Aku juga ingat, tiap kali aku berbuat nakal, ibu selalu menulis sesuatu di buku itu. Ini buku apa ya? Aku selalu penasaran. Akhirnya aku iseng-iseng membaca halaman yang terbuka dari buku itu. Sepertinya ibu baru saja menulisnya. Ayumi hari ini: - 3 point. Tersisa 24 point.

Longsor

Sebuah keluarga sedang melakukan perjalanan di Colorado dengan sebuah bus. Keluarga itu terdiri atas sepasang suami istri dan dua anaknya. Ketika bus itu mencapai kaki pegunungan, kedua anak mereka mulai merengek karena lapar. Suami istri tersebut memutuskan turun di restoran terdekat. Setelah turun dan selesai makan, mereka melihat sebuah berita di televisi. Sebuah bus baru saja mengalami kecelakaan mengerikan karena tertimpa longsoran batu. Semua penumpang bus diberitakan tewas. Suami istri itu shock, sebab bus yang diberitakan adalah bus yang mereka naiki tadi. “Kuharap kita tak pernah naik bus itu.” Kata sang istri. “Teganya kau mengatakan hal itu!” kata sang suami dengan marah. “Oh, kau benar.” Kata sang istri, “Seharusnya kita tidak turun tadi!”

Sayembara

Seorang pria yang tak kukenal menawariku sebuah sayembara. “Hai, apa kau ingin ikut sebuah lomba. Ada sebuah kotak kayu di gudang berisi uang 1 juta dolar. Untuk membukanya, kamu akan diberikan sebuah kapak. Namun kamu hanya diberi waktu setengah jam untuk menemukannya. Jika kamu bisa menemukannya, uang itu akan jadi milkmu. “Oke setuju!” Dan iapun membawaku ke gudang. Aku langsung putus asa, sebab ada ratusan kotak kayu di dalam gudang. Butuh berjam-jam untuk membukanya satu-satu. “Namun bila kau berikan 50 $ kepadaku,” kata orang tua itu, “Aku akan langsung menempatkanmu di samping uang sejuta dolar itu!”” “Baiklah, aku setuju!” ucapku tanpa ragu-ragu. Aku memberikannya uang itu. Permainan dimulai. Dan ia memegang janjinya. Uang itu berada tepat di depanku.

Tas Berbentuk Bayi

Aku sedang berada di stasiun, duduk di kursi sambil menunggu kereta ketika seorang wanita yang menggendong bayi duduk di sampingku. Aku sangat menyukai anak-anak dan aku tak bisa berhenti menatap wajah bayi yang lucu itu. Wanita itu menyadarinya dan mulai bercakap-cakap denganku. “Sebenarnya ini bukan bayi, tapi ini tas.” Ia lalu membuka baju bayi itu dan menunjukkan sebuah resleting di perutnya. Aku juga kemudian menyadari mata bayi itu terbuat dari kaca. “Wow, itu terlihat sangat realistik.” “Ya, aku tahu. Butuh kerja keras untuk membuatnya. Memakan waktu juga. Namun aku menikmatinya. Aku suka mendaur ulang benda.” Ia menjawab sambil tersenyum. Ketika kereta yang akan kami naiki tiba, ia berdiri dan masuk ke kereta itu. Aku juga hendak naik ke kereta itu, namun aku hanya terpaku di kursi itu, tak mampu bergerak. Aku duduk di sana, kaku, menatap kereta itu hingga akhirnya menghilang di kejauhan.

Security Guard

Larut malam, dua orang mahasiswi sedang sibuk mengerjakan tugas mereka di perpustakaan. Ketika mereka sedang sibuk di depan laptop mereka, seorang satpam mendekati mereka dari belakang.  “Perpustakaan sudah hampir tutup.” Kata satpam itu, “Kenapa kalian belum pulang?”  “Kami harus mengumpulkan tugas ini besok pagi jam 7 pak.” Jawab salah satu mahasiswi itu, “Maaf, bisakah kami berada di sini sejam lagi? Kami yakin kami akan menyelesaikannya sebentar lagi.”  “Baik, kalau begitu ada baiknya aku menemani kalian di sini sampai tugas kalian selesai,” jawab satpam tersebut, “Aku akan berdiri di sini untuk memastikan kalian aman.”  Kedua gadis itu merasa sangat berterima kasih pada satpam tersebut. Mereka bisa menyesaikan tugas mereka tanpa takut suatu apapun karena satpam tersebut berjaga di belakang mereka. Hingga saat mereka akan menulis kesimpulan, tiba-tiba ...  “Tok ...”  Salah satu gadis tersebut menjatuhkan pensilnya. Pensil itu menggeli...